Medan – Pemerintah Kota (Pemko) Medan terus mendorong penataan ruang terbuka hijau sekaligus menghidupkan kembali kawasan yang memiliki nilai sejarah dan fungsi publik. Salah satunya melalui rencana revitalisasi kawasan Taman Sri Deli yang akan dilakukan secara bertahap mulai tahun 2026.
Wali Kota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas, mengatakan revitalisasi tersebut tidak hanya berorientasi pada pembenahan fisik, tetapi juga diarahkan untuk menciptakan ruang publik yang lebih nyaman, hijau, ramah anak, dan dapat dimanfaatkan masyarakat.
Menurut Rico, kawasan tersebut nantinya diharapkan menjadi ruang publik yang memiliki nilai edukasi sekaligus mendukung aktivitas masyarakat.
“Kita ingin kawasan ini tidak hanya tertata secara fisik, tetapi juga bisa menjadi ruang publik yang nyaman, hijau dan bermanfaat bagi masyarakat. Bangunan yang memiliki nilai sejarah tetap kita jaga, sementara fungsi kawasan kita kembangkan agar lebih hidup,” ujar Rico Waas kepada wartawan saat kunjungan, Jumat (2/10) pagi.
Rico mengatakan, Pemko Medan berharap revitalisasi tersebut dapat memberikan wajah baru bagi kawasan Taman Sri Deli sekaligus menghadirkan ruang publik yang lebih representatif, hijau, ramah anak, dan mampu mengakomodasi aktivitas masyarakat serta pelaku UMKM.
Turut mendampingi Rico dalam kunjungan tersebut, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Medan Melvi Marlabaya, Kepala Dinas Sumber Daya Air, Bina Marga dan Bina Konstruksi (SDABMBK) Khairul Azmi, Kepala Dinas Perhubungan Irsan Nasution, Kepala Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman, Cipta Karya dan Tata Ruang (Perkimcitaru) Jhon Ester Lase, serta camat dan lurah.
Sementara itu, Kepala DLH Kota Medan Melvi Marlabaya menjelaskan, pekerjaan tahap pertama yang dilaksanakan pada 2026 akan difokuskan pada revitalisasi bangunan cagar budaya dan penataan lingkungan di sekitarnya.
“Yang akan kita kerjakan sebenarnya adalah merevitalisasi bangunan cagar budayanya. Kemudian kita tambahkan pepohonan untuk menunjang program keanekaragaman hayati. Di kawasan ini juga akan dibuat taman bermain anak serta jogging track,” jelas Melvi.
Melvi menyampaikan, pekerjaan tahap pertama tersebut mencakup penataan kawasan agar lebih hijau dan memiliki fungsi ekologis yang lebih baik. Penempatan kembali pepohonan menjadi bagian penting untuk mendukung program keanekaragaman hayati di kawasan tersebut.
Selain ruang hijau dan fasilitas publik, Pemko Medan juga menyiapkan ruang bagi pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) untuk ikut menghidupkan kawasan.
“Untuk UMKM, nanti kita sediakan beberapa tenant dengan tema-tema tertentu. Siapa yang mengisi tenant tersebut tentunya akan melalui proses kurasi dari Dinas UMKM,” katanya.
Keberadaan UMKM di kawasan tersebut nantinya diharapkan dapat mendukung aktivitas ekonomi masyarakat sekaligus membuat kawasan semakin aktif.
Melvi menambahkan, penataan tersebut akan dilakukan secara bertahap. Pada tahap pertama tahun 2026, fokus pekerjaan berada pada revitalisasi bangunan cagar budaya, penataan pepohonan, penguatan program keanekaragaman hayati, serta pembangunan fasilitas pendukung seperti taman bermain anak dan jogging track.
Sedangkan pengembangan lanjutan akan dilakukan pada tahap berikutnya, termasuk penambahan berbagai fasilitas dan konten yang dapat mendukung fungsi kawasan sebagai ruang publik.
“Jadi tahap pertama di tahun 2026 ini kita masuk pada pekerjaan revitalisasi bangunan cagar budaya, penempatan kembali pohon-pohon dan penataan program keanekaragaman hayati secara lengkap. Untuk tahap kedua nanti akan ada pengembangan lainnya,” tutup Melvi. (NC02)
