Stigma Sosial dan Rendahnya Kesadaran Masih Menjadi Kendala Dalam Penanganan Kanker Payudara

RINGKASAN
  • Penelitian kolaborasi USU dan SingHealth Duke-NUS Singapura yang berlangsung sejak Mei 2025 mencatat sekitar 60 persen pasien kanker payudara di Indonesia baru datang ke rumah sakit saat penyakit memasuki stadium lanjut.
  • Dalam audiensi di Rumah Dinas Wali Kota Medan, Jumat (6/11/2026), dr. Ivana Alona, MPH, Sp.KKLP, menyebut rendahnya kesadaran, stigma sosial, dan rasa takut terhadap diagnosis sebagai kendala; tim FK USU turut memaparkan rencana penelitian penguatan deteksi dan diagnosis dini kanker payudara di Kota Medan.
  • Ketua TP PKK Kota Medan Ny. Airin Rico Waas mendukung edukasi dan deteksi dini melalui Posyandu serta kegiatan komunitas, dengan materi kreatif di media publik dan media sosial yang mencakup panduan SADARI, gejala awal, dan langkah deteksi dini.

Medan – Perwakilan tim peneliti dari Program Studi Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer FK USU/Departemen Ilmu Komunitas sekaligus Manajer Hukum dan Humas RSP CPL USU, dr. Ivana Alona, MPH, Sp.KKLP, menjelaskan, rendahnya kesadaran masyarakat, stigma sosial, serta rasa takut terhadap diagnosis masih menjadi kendala dalam penanganan kanker payudara.

Berdasarkan data penelitian kolaborasi USU dengan SingHealth Duke-NUS Singapura yang berlangsung sejak Mei 2025, sekitar 60 persen pasien kanker payudara di Indonesia baru datang ke rumah sakit ketika penyakitnya sudah memasuki stadium lanjut.

“Karenanya, kolaborasi lintas sektor yang melibatkan TP PKK, Posyandu, kader kesehatan, penyintas kanker, tokoh masyarakat, hingga dukungan dari keluarga sangat krusial,” kata Ivana saat melakukan audiensi tim Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara (FK USU) dengan Ketua Tim Penggerak (TP) PKK Kota Medan, Ny. Airin Rico Waas, di Rumah Dinas Wali Kota, Jumat (6/11/2026). Dalam pertemuan tersebut, tim FK USU juga turut memaparkan rencana penelitian bertajuk ‘Penguatan Sistem Kesehatan untuk Meningkatkan Deteksi dan Diagnosis Dini Kanker Payudara di Kota Medan’.

Menanggapi hal itu, Airin Rico Waas, mendorong penguatan edukasi dan deteksi dini kanker payudara melalui pendekatan kreatif yang mudah dipahami dan diterima masyarakat.

Airin menyatakan dukungannya terhadap rencana tersebut. Ia mengusulkan agar edukasi kesehatan tentang kanker payudara diintegrasikan ke dalam program rutin masyarakat, seperti Posyandu dan berbagai kegiatan komunitas.

“Posyandu kita memiliki program rutin. Nantinya, kita bisa mengundang dokter untuk sekaligus memberikan edukasi tentang kanker payudara dan program kesehatan lainnya. Kalau ada kegiatan komunitas, para dokter juga bisa kita libatkan,” ujar Airin.

Menurutnya, gerakan edukasi tersebut perlu melibatkan berbagai elemen masyarakat, mulai dari kader PKK, kepala lingkungan (kepling), hingga masyarakat luas. Keterlibatan tenaga medis secara langsung diharapkan dapat memberikan pemahaman praktis yang selanjutnya diteruskan kepada anggota keluarga.

Selain penyuluhan secara langsung, Airin juga menekankan pentingnya pemanfaatan media publik dan media sosial untuk menyebarluaskan informasi kesehatan.

Ia berharap materi edukasi dikemas secara kreatif, ringan, dan menarik agar mudah diterima berbagai kalangan usia, khususnya generasi muda.

“Edukasi ini harus kita kemas dalam bentuk yang ringan dan menarik. Jangan sampai ketika masyarakat melihat kontennya, mereka justru langsung melewati karena penyampaiannya kurang menarik,” katanya.

Airin juga meminta agar materi edukasi mencakup panduan Pemeriksaan Payudara Sendiri (SADARI), pengenalan gejala awal, serta langkah-langkah deteksi dini kanker payudara. (NC01)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *