Jakarta – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merangkum perkembangan situasi dan penanganan bencana di sejumlah wilayah Indonesia pada periode Selasa (21/07) pukul 07.00 WIB hingga Rabu (22/07) pukul 07.00 WIB. Berdasarkan data yang dihimpun, kekeringan masih mendominasi kejadian bencana di berbagai wilayah, sementara kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah provinsi masih menjadi perhatian pemerintah melalui upaya penanganan darat dan udara.
Di Provinsi Jawa Barat, kekeringan di Kabupaten Bogor yang terjadi sejak Selasa (1/07) masih berdampak pada 16.291 kepala keluarga atau 52.602 jiwa. BPBD Kabupaten Bogor terus mendistribusikan air bersih sebanyak 4.000 liter untuk Desa Hambalang di Kecamatan Citeureup, 2.500 liter untuk Desa Gadog di Kecamatan Megamendung, serta 5.000 liter untuk Desa Sukajaya di Kecamatan Sukajaya guna memenuhi kebutuhan masyarakat terdampak.
Di Provinsi Jawa Tengah, kekeringan di Kabupaten Banyumas yang terjadi sejak awal Juli 2026 telah berdampak pada 2.867 kepala keluarga atau 9.002 jiwa. BPBD setempat menyalurkan 15.000 liter air bersih atau tiga tangki untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat.
Kekeringan di Kabupaten Cilacap yang terjadi sejak Juni 2026 juga masih berlangsung dan berdampak pada 8.154 kepala keluarga atau 27.605 jiwa. Hingga Senin (21/07), total distribusi air bersih mencapai 60 tangki atau setara 315.000 liter.
Sementara itu, kekeringan di Kabupaten Klaten yang terjadi sejak pertengahan Juni 2026 telah berdampak pada 3.330 kepala keluarga atau 10.908 jiwa. Selama periode 15 Juni hingga 21 Juli 2026, bantuan air bersih yang disalurkan di Kecamatan Kemalang telah mencapai 321 tangki atau setara 1.605.000 liter.
Di Kabupaten Sragen, kekeringan yang terjadi sejak awal Juli 2026 berdampak pada 294 kepala keluarga atau 736 jiwa. BPBD Kabupaten Sragen mendistribusikan 10.000 liter air bersih ke Desa Galeh, Kecamatan Tangen, serta Desa Poleng, Kecamatan Gesi.
Selanjutnya, kekeringan di Kabupaten Grobogan yang terjadi sejak Mei 2026 masih berdampak pada 1.128 kepala keluarga. BPBD Kabupaten Grobogan menyalurkan bantuan air bersih sebanyak 20.000 liter ke Desa Selo dan Desa Monggot.
Di Kabupaten Pemalang, kekeringan yang terjadi sejak Juni 2026 berdampak pada 5.346 kepala keluarga. Tim gabungan BPBD dan PMI telah mendistribusikan 81.000 liter air bersih, terdiri atas 56.000 liter dari BPBD dan 25.000 liter dari PMI.
Di Daerah Istimewa Yogyakarta, kekeringan di Kabupaten Kulon Progo yang terjadi sejak Juli 2026 berdampak pada 63 kepala keluarga atau 176 jiwa. BPBD Kabupaten Kulon Progo mendistribusikan 5.000 liter air bersih kepada 22 kepala keluarga atau 50 jiwa di Pedukuhan Clapar I, Kalurahan Hargowilis, Kapanewon Kokap.
Selain penyaluran air bersih oleh pemerintah daerah, BNPB juga terus memperkuat upaya mitigasi menghadapi musim kemarau dan potensi El Nino melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di wilayah prioritas, pembangunan sumur bor, serta pipanisasi untuk menjamin ketersediaan air bersih bagi masyarakat dan mendukung kebutuhan pertanian di daerah rawan kekeringan.
Selain kekeringan, perkembangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) juga masih menjadi perhatian nasional.
Di Provinsi Aceh, luas lahan terbakar hingga Senin (21/07) mencapai 761,68 hektare yang tersebar di 20 kabupaten dan satu kota. BNPB bersama pemerintah daerah terus melakukan pendampingan penanganan melalui operasi darat untuk mencegah meluasnya kebakaran.
Di Provinsi Sumatera Selatan, karhutla telah berdampak di 12 kabupaten dengan total luas lahan terbakar mencapai 664,87 hektare. Penanganan dilakukan melalui operasi darat, patroli udara, water bombing, dan Operasi Modifikasi Cuaca. Hingga 20 Juli 2026 tercatat 479 kejadian karhutla di wilayah tersebut.
Di Provinsi Kalimantan Tengah, total luas lahan terbakar hingga Minggu (20/07) mencapai 889,92 hektare, bertambah sekitar 37,24 hektare dibandingkan sebelumnya. BNPB bersama pemerintah daerah terus mendukung penanganan melalui operasi udara dan pemadaman darat.
Sementara itu, di Provinsi Kalimantan Selatan, luas lahan terbakar hingga Minggu (20/07) mencapai 39,4 hektare. Pemerintah provinsi masih memberlakukan status Siaga Darurat hingga 31 Agustus 2026, sementara operasi penanganan terus dilakukan di lokasi terdampak.
Selain itu, BNPB juga terus memantau perkembangan beberapa kejadian hidrometeorologi dan geologi.
Banjir di Kabupaten Tapanuli Tengah, Provinsi Sumatera Utara, yang terjadi sejak Minggu (29/06) masih berdampak pada 236 jiwa yang mengungsi di Gereja HKBP Desa Sipange, Kecamatan Tukka, serta 145 unit rumah terdampak. Curah hujan yang masih terjadi menyebabkan Sungai Arse kembali meluap akibat tanggul yang jebol sehingga BPBD Kabupaten Tapanuli Tengah terus bersiaga di lokasi.
Di Kabupaten Nunukan, Provinsi Kalimantan Utara, tanah longsor yang terjadi sejak Selasa (15/07) masih mengisolasi sekitar 460 kepala keluarga atau 1.507 jiwa. Pada Senin (21/07), bantuan logistik BNPB telah diberangkatkan melalui jalur laut dari Tarakan menuju Kabupaten Nunukan untuk mendukung penanganan masyarakat terdampak.
Sementara itu, gempa bumi di Kabupaten Buol, Provinsi Sulawesi Tengah, yang terjadi sejak Minggu (13/07) mengakibatkan dua orang meninggal dunia, dua orang luka berat, satu orang luka ringan, serta 193 kepala keluarga atau 345 jiwa terdampak. Selain itu, 276 unit rumah mengalami kerusakan. BPBD Kabupaten Buol masih membantu proses evakuasi warga ke lokasi yang lebih aman di kawasan Gunung Kali, Gunung Tontoyong, Kelurahan Leok I, dan Kelurahan Kulango.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari, Ph.D mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana selama musim kemarau, termasuk kekeringan dan kebakaran hutan serta lahan.
Pemerintah daerah diharapkan terus memperkuat kesiapsiagaan, memastikan ketersediaan air bersih, serta mengoptimalkan langkah mitigasi guna mengurangi risiko bencana.
Masyarakat juga diimbau untuk tidak melakukan pembakaran lahan, menggunakan air secara bijaksana, serta mengikuti informasi resmi dari BMKG, BPBD, dan instansi terkait. “Kesiapsiagaan seluruh unsur menjadi kunci dalam meminimalkan dampak bencana dan melindungi keselamatan masyarakat,” kata Abdul Muhari dalam siaran pers yang diterima Redaksi, Rabu (22/7/2026). (NC01)
