Medan – Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) yang terjadi di sejumlah wilayah Sumatera Utara mulai berdampak terhadap sektor konstruksi. Terbatasnya pasokan BBM dikhawatirkan menghambat operasional alat berat, kendaraan pengangkut material, hingga mengancam target penyelesaian berbagai proyek pembangunan.
Pengamat konstruksi Sumatera Utara, Erikson Tobing, mengatakan dampak kelangkaan BBM paling dirasakan pada aktivitas yang bergantung pada bahan bakar, terutama penggunaan alat berat dan kendaraan pengangkut material.
“Dampaknya pada penggunaan alat berat dan juga alat angkut material, seperti dump truck, molen truck, dan semua mesin yang menggunakan BBM,” ujar Erikson, Selasa (14/7).
Meski belum memiliki data pasti mengenai jumlah proyek yang terdampak atau mengalami penundaan, Erikson menilai hampir seluruh pelaku usaha konstruksi mulai merasakan dampak dari kondisi tersebut.
“Saya tidak punya data untuk itu. Mungkin bisa ditanyakan langsung kepada pelaksana konstruksi di Medan. Tetapi secara asumsi, dampaknya sudah pasti dirasakan oleh seluruh pelaku usaha konstruksi,” katanya.
Menurut Erikson, apabila persoalan kelangkaan BBM tidak segera diatasi, berbagai rencana kerja dan target pembangunan yang telah disusun kontraktor berpotensi mengalami gangguan.
“Pastinya akan terganggu semua hal yang sudah direncanakan atau ditargetkan para pelaksana konstruksi yang terdampak kelangkaan BBM tersebut,” tegasnya.
Ia menjelaskan, keterlambatan pekerjaan konstruksi tidak hanya berdampak pada mundurnya penyelesaian proyek, tetapi juga berpotensi meningkatkan biaya operasional. Hal itu disebabkan bertambahnya waktu penggunaan alat berat, terganggunya distribusi material, serta menurunnya produktivitas pekerjaan di lapangan.
“Kalau kondisi ini terus berlangsung, tentu akan ada efek domino terhadap sektor konstruksi. Proyek yang seharusnya berjalan sesuai jadwal bisa mengalami perlambatan,” ujarnya.
Erikson berharap pemerintah daerah bersama PT Pertamina segera mengambil langkah konkret untuk memastikan ketersediaan BBM bagi sektor-sektor produktif, termasuk sektor konstruksi yang memiliki peran penting dalam pembangunan daerah.
“Seharusnya ada koordinasi khusus yang dilakukan oleh pemerintah dan Pertamina untuk mengatasi permasalahan tersebut,” pungkasnya.
Sebelumnya, antrean panjang kendaraan di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Sumatera Utara dalam beberapa hari terakhir menjadi perhatian masyarakat. Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran terhadap terganggunya aktivitas ekonomi, termasuk sektor transportasi, distribusi barang, dan pembangunan infrastruktur. (NC01/rel)
